Showing posts with label quotes. Show all posts
Showing posts with label quotes. Show all posts

Sunday, November 4, 2012

end reaction



" tingkat keimanan kita saat itu yang akan tentukan reaksi kita pada waktu itu"
(quoted)



sangat terkesan.

macam- macam mana sekali pun, iman kita yang akan tentukan reaksi kita masa tu.

be it kita mampu bersabar ke, marah- marah ke, kecik hati ke, serabut sangat ke,
semua tu iman kita yang akan tentukan.

tapi lain pulak,
marah kerana Allah dengan marah tak tentu hala sebab iman tengah rendah.

*ketuk kepala sendiri*.

ayat feveret saya all the time,
and yes a great reminder untuk org mcm saya nih

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (ar-Ra’du: 28).

Tuesday, October 16, 2012

indicator

A dialogue, while travelling away from home.

Ee  : Bee, awak ada tisu tak? (sambil menunjukkan tangan melekit lepas makan donut sedap)
Bee: Ada, nah.
Ee  : ee rasa macam nak cuci muka. rimas la.
Bee: saya ada wet tissue. awak nak?
Ee  : boleh, nak~
      (after lap muka), awak ni memang perempuan betul la.
Bee: erk. perempuan betul? selama ni saya laki ke?
Ee  : haha. takla. tisu awak ada, wet tissue awak ada, cukup semua. memang perempuan betul
        la.
Bee: macam tu je boleh jadi perempuan betul? senang benar.
       tapi kan, dulu saya ada classmate laki yg lengkap semua benda macam tu jugak. dia yg
       first pakai handsanitizer kat kelas kitorang. siap ada toilet tissue lagi bawah meja dia,
       bla bla bla.
Ee  : mesti dia tu cam metrosexual kan? eh ke dia lembut?
Bee: (gelak2, sambil tukar topik lain).

*************************************************

we try to make some generalisation here kejap.
kalau indicator utk jadi perempuan sebenar tu adalah dengan membawa tisu ke mana-mana,
kalau lelaki yg bawa tisu/ jaga penampilan terlebih-lebih itu metrosexual,
then,
macam mana pulak kalau seorang tu nak tahu dia betul-betul dah ditarbiyah atau tidak?

here i share a gem with you.
it's from a book actually, tapi dah sering dibahas dalam bulatan2 / perhimpunan2 gembira sebenarnya :)
take it as a gentle reminder then (for me myself also~~!) insyaallah :)
it's in indonesian btw. kalau tak faham certain words, sila tanya. jangan simpan sampai salah faham. (even google translate pun not reliable sometimes).

1.) Terbuka terhadap Perubahan

Hasil akhir dari semua proses pembelajaran adalah perubahan, termasuk tarbiyah. Hasil akhir dari tarbiyah adalah adanya perubahan. Dalam beberapa kasus, insan tarbiyah "terlanjur" besar dalam kondisi tertentu dan sulit berubah ketika kondisi telah berbeda. Perasaan telah menjadi sesuatu / seseorang yang besar itulah yang membunuh tujuan akhir dari tarbiyah.

2.) Mampu Bersikap Tegas dan Menghindarkan Diri dari Sikap Agresif

Kita tarbiyah ketika menjadi manusia yang tegas, bukan agresif. Menolak praktik syirik, menolak kemaksiatan, mempertahankan strategi dakwah, menjelaskan tujuan dakwah, dan menegakkan disiplin memang membutuhkan ketegasan, tetapi tidak membutuhkan agresivitas. Produk dari tarbiyah adalah insan yang tegas dalam prinsip, memiliki determinasi yang tinggi, sabar, serta tidak dapat diprovokasi untuk melakukan tindakan-tindakan kontraproduktif.

3.) Menjadi Peribadi yang Proaktif

Kita tarbiyah ketika proaktif terhadap hal-hal yang bermanfaat.  Kesempatan belajar dan kesempatan-kesempatan lainnya tidak boleh disia-siakan hanya karena belum mendapat "restu" dari murabbi. Atau jangan sampai kita hanya berpangku tangan menunggu wasilah-wasilah (sarana) yang direkomendasikan oleh murabbi. Rekomendasi memang diperlukan dan syura memang harus dilakukan, tetapi kedua hal tersebut bukan alasan untuk tidak proaktif. Justru syura akan dinamis dan rekomendasi akan bervariasi jika peserta syura melakukannya dengan proaktif.

4.) Menjadi Peribadi yang Memiliki Sikap Mawas Diri

Kita tarbiyah ketika tidak mudah menyalahkan orang lain. Bahkan sebaliknya, di lembaga tarbiyahlah kita mengembangkan sikap mawas diri. Tarbiyah mengantarkan seseorang untuk sadar akan pentingnya berinstitusi / berjama'ah dalam menegakkan agama. Namun kesadaran ini juga mesti diikuti dengan kesadaran bahwa sebuah jama'ah apapun adalah institusi manusia dengan segenap kemanusiaannya. Ada keunggulan di sana, ada kecerdasan, ada kehebatan, tetapi juga berserak kealpaan, keteledoran, ego, dan juga kepentingan individual. Tarbiyah menjadikan seseorang memiliki kesadaran bahwa berjama'ah / berorganisasi tetaplah lebih baik dari pada sendiri dengan segala kelemahan dan keunggulan pribadi.

5.) Menjadi Peribadi yang Mandiri

Kita tarbiyah ketika menjadi insan yang mandiri dan merdeka, bukan manusia yang bergantung pada orang lain. Fakta empiris menyajikan data bahwa para pahlawan kita memiliki jiwa merdeka yang membangkitkan energi besar dalam perjuangannya. Muhammad SAW adalah sosok yang mandiri dan merdeka, jauh dari intervensi siapa pun. Begitu juga dengan para sahabat beliau.

6.) Menjadi Sosok yang Berperasaan, Tetapi Tidak Emosional

Kita tarbiyah ketika tarbiyah menjadikan hati dan perasaan kita hidup tanpa terjebak dalam sikap emosional. Kita juga siap menghadapi ujian dan tidak cengeng, serta tidak mudah terpukul oleh sebuah kegagalan. Emosi keagamaan adalah sebuah energi yang mendorong untuk berperilaku serba religi. Sedangkan sikap emosional dalam beragama adalah ekspresi yang tidak menguntungkan dan biasanya ditimbulkan oleh pribadi yang tidak bersedia menghadapi kenyataan.

7.) Menjadi Pribadi yang Sanggup Belajar dari Kesalahan

Seseorang yang tertarbiyah adalah seseorang yang menjadikan kesalahan yang dilakukannya sebagai salah satu cara untuk belajar. Kita sudah tarbiyah ketika kita mampu menjadi manusia yang sanggup menghadapi sesuatu di masa depan. Menghadapi sesuatu di masa depan pasca kekalahan memang tidak mudah.

8.) Mampu Hidup di Masa Sekarang, Bersikap Realistik, dan Berpikir Relatif

Kita ditarbiyah ketika kita tidak menjadi bagian dari masa lalu, dalam kata lain yaitu mampu bersikap realistik, berpikir secara relatif, dan tidak mutlak-mutlakan (taqlid buta), serta memiliki kepercayaan yang tinggi. Yang dibutuhkan oleh dunia adalah seseorang yang mampu berpikir realistik dan memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan konsep atau idealismenya di dunia ini.





Maka, sudahkah kita tarbiyah?



p/s: basically saya letak bulat2 apa yg ditulis, taknak translate siap2 because there're things that will be lost in translation if i do so. wallahu a'lam.

Wednesday, May 26, 2010

open your eyes, will you?

again, from the alchemist (the book has become my favourite so far :D )

Early in the story, when the boy is still a shepherd, a flashback crosses his mind. he remembered the 1st time he mentioned to his father that he wants to become a shepherd so that he could see the world. In his world, a job that could travel most is being a shepherd. he ought to find the best grass, purest water to feed his sheeps. he goes around Spain to find a good grazing field. He had seen many castles and met many people. He can speak Latin, Spanish and even studied theology. The world was huge and inexhaustible, and he had only to allow his sheep to set the route for a while, and he would discover other interesting things. The only regrettable problem is that the sheeps dont ever realize that they're walking a new route every day. They dont see that the fields are new and the seasons change. All that they think about is food and water. "Maybe we are all that way," mused the boy.



It is an irony that the boy had travel to many places with his sheeps, but in the end, he's the one that learn many things (because he wanted to), but his sheeps never aware of happenings around them, and only think of food and water. After travelling to many places, it's such a waste if we're end up being just like the sheep. So many signs of His existence, His mightiness around us. But if we're too caught up in this small world of ours, we end up never realizing anything. Life has too much in store for us. Which leads us to find the truth. Him. Even a single step outside our door could make a difference, if we're aware of where, what, and why we're doing what we have in mind.

Just take sometimes to reflect on our ownselves, can we?

Mereka memiliki hati tetapi tidak digunakannya untuk memahami. Mereka memiliki telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar. Mereka memiliki mata tetapi tidak digunakan untuk melihat. Mereka ini seperti binatang ternak. Bahkan lebih buruk. Mereka adalah orang-orang yang lalai”, (Al A’raf: 179)

Monday, May 17, 2010

where will your dreams bring you?

from The Alchemist - Paulo Coelho. some might say that this book is very symbolic. For me, it's deep indeed. Here is a part from the book that I think really interesting, and should be ponder upon.

(rephrased form, for fear of being accused plagiarised :P )

The main protagonist of the story is a boy whose homeland is in Spain and quit being a shepherd to pursue his dream (which is to find a treasure near Pyramids in Egypt). Series of unfortunate events fall on him, and situation forced him to work in a crystal shop to make some savings so that he can continue his journey to the pyramids. The owner of the shop is a devout muslim (typical in Egypt indeed), who performed the 5 obligations as a muslim well, except for the fifth, the pilgrimage. With watery eyes,the merchant told the boy that since he was a kid, he saved his money so that he can open this shop and someday that he will be rich, he will go to Mecca. It's his biggest dream indeed. Then the boy said to him that now the merchant is rich enough to afford the pilgrimage. So many people passing through the shop everyday to go to Mecca, and some are even poorer than the merchant. What else does the merchant wait for to go there?

The merchant's answer: Because it's the thought of Mecca that keeps me alive. That's what helps me face these days that are all the same, these mute crystals on the shelves and lunch and dinner at that same horrible cafe. I'm afraid that if my dream is realized, I'll have no reason to go on living. I'm different from you. you live to realize your dream, but for me, it's enough to just dream..


It's a pity that the merchant limit his dream to just only go to Mecca for the pilgrimage. Not beyond that. What he says is true, and that's what's happening in our society today. People only live to live a short dream, say, to be a doctor, an engineer, etcetera etcetera.. Once they'll become a doctor, what else will they be? A sub-specialist? then what? then what? and again, then what? it's not wrong to think like what the merchant did as he makes his dream as an inspiration for him to live the present fully. But it's a pity, because he will never go anywhere.

When we dream or put our aim for this world only, then the world is the end of it.
We want to dream big, right?
We believe that there's more to life, right?
We aim for Allah's paradise right?
We dont want our happiness to stop just until we die, right?

rethoric.

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (QS : As-Shaff : 10-12)

Sunday, March 14, 2010

bedtime story :)

ada cerita best saya nak share dengan semua :) sila baca dengan sabar, kerana- Nya :)

Sesungguhnya Kami (Allah) telah menguji mereka sebagaimana Kami (Allah) telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahawa mereka akan memetiknya di pagi hari.

tetapi mereka tidak menyebut pengecualian (dengan mengatakan InsyaAllah.
Maka kebun itu didatangi serta diliputi oleh bala bencana dari Tuhanmu (pada malam hari), sedang mereka semua tidur.
Lalu menjadilah ia sebagai kebun yang telah binasa semua buahnya.
Kemudian pada pagi-pagi, mereka panggil memanggil antara satu dengan yang lain.

(Setengahnya berkata): "Pergilah pada pagi-pagi ke kebun kamu, kalau betul kamu mahu memetik buahnya".
Maka pergilah mereka sambil berbisik-bisikan,"janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalamnya (kebun kamu) pada hari ini.”


Dan pergilah mereka pada pagi-pagi itu, dengan kepercayaan, (bahawa) mereka berkuasa menghampakan fakir miskin dari hasil kebun itu.

Sebaik-baik sahaja mereka melihat kebunnya, mereka berkata: "Sebenarnya kita sesat jalan, (ini bukanlah kebun kita)".
Setelah mereka perhati dengan teliti, mereka berkata: "Tidak! Kita tidak sesat, bahkan kita orang-orang yang dihampakan (dari hasil kebun kita, dengan sebab ingatan buruk kita sendiri)".

Berkatalah orang yang bersikap adil di antara mereka: "Bukankah aku telah katakan kepada kamu (semasa kamu hendak menghampakan orang-orang fakir miskin dari habuannya): amatlah elok kiranya kamu mengingati Allah (serta membatalkan rancangan kamu yang jahat itu)?"
Mereka berkata (dengan sesalnya): "Maha Suci Tuhan Kami! Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berlaku zalim!"

Lalu sebahagian mereka menghadapi sebahagian yang lain, saling menyalahkan.
Mereka berkata: "Aduhai celakalah kita! Sesungguhnya kita ini adalah orang yang melampaui batas.”
“Mudah-mudahan Rab (Tuhan) kita memberikan ganti kepada kita dengan yang lebih baik daripada itu. Sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita."

Seperti itulah azab (di dunia). Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui.

(al-Qalam: 17-33).

Sangat comel bila pekebun2 ni reflect diri masing-masing bila terjadi sesuatu yang buruk pada mereka. Mereka tidak menyalahkan ulat yg merosakkan buah, tanah yang tandus atau baja yang kurang. Sebaliknya, mereka menyalahkan diri sendiri atas kezaliman yang mereka sendiri lakukan. Subhanallah~! Semoga lepas ni, kalau ada apa- apa yang kita x suka terjadi, kita reflect diri kita dulu eh. recheck mana2 dosa yg makin menimbun :)

Tuesday, February 23, 2010

theory of knowledge.

what i am about to write is quoted from a person,
based on His words.

the one who has faith does not read with these eyes.

Do we have any other eyes besides these eyes?




Do we have any other ears besides these ears?



Do we have any other means of acquiring knowledge of events?
through sense and perception and rationality
The modern Godless world says "no."
The Quran says "yes."

The Quran says that the heart can see
The Quran says that the heart can hear
when faith enters into the heart
did Allah puts Nur in the heart.
Light.
and with that Light the heart can see what these eyes cannot see.
And so now it is clean and clear,
that when the one who has faith can see,
he sees with more than these eyes.
He sees with the heart.




wakeupproject:phase3:part2.

Thursday, January 28, 2010

terpotong jari

prolog:

lapar. nak makan serunding dengan nasi. serunding masih dalam plastik, belum berbuka. tercari-cari alat memotong. Ah. ada pisau. pisau tumpul, bergerigi. jadi lah. krek krek krek. separuh jalan dah potong. tengah ralit potong, tersedar jari telunjuk kiri menghalang perjalanan pisau yang asyik memotong. tak sempat alihkan. inersia. terpotong jari telunjuk. hampir2 dekat hujung jari. terpotong lebih sikit, boleh terkopak dua. darah menitik- nitik. huhu. sakit. takpe. saya lapar.

epilog:


nak basuh pinggan. jari tadi tak letak handiplast. leceh. nak wudhu' nanti kene bukak2. baik tak yah pakai. ternampak la belah terpotong jari tadi. hurm2. leceh juga nak basuh pinggan. perlu berhati- hati.
o0h. dah pagi. mahu buka suis lampu. guna jari telunjuk. o0ps. lupa. darah balik jari ni. nak basuh muka, mandi. mamai. terlupa jari luka. huuuu~ sakit sangat. ingat! perlu berhati- hati.
kelas. takut sangat papercut. masih tidak memakai handiplast. perlu sangat berhati- hati kalau tak mahu sakit lagi.
naik teksi, pergi embassy, pergi mall. sungguh- sungguh tengok jari. jaga betul- betul. takut terlanggar apa- apa. tak nak berdarah lagi.


Imam Ibnu Katsir menyebutkan dalam Tafsirnya bahwa: Umar bin Khathab ra bertanya kepada Ubai Ibnu Ka’ab ra, tentang taqwa, maka berkatalah Ubai kepada Umar:

“Pernahkah engkau melewati jalan yang penuh duri?”

"Ya, Pernah”. Jawab Umar.

Ubai bertanya lagi: “Apa yang anda lakukan saat itu?”.

Umar menjawab: “Saya akan berjalan dengan sungguh-sungguh dan berhati-hati sekali agar tak terkena dengan duri itu”. Lalu Ubai berkata: “Itulah taqwa”.





masa tengah susah-payah menahan jari yang sakit & berdenyut- denyut tu, teringat orang selalu kata. sakit ni, boleh jadi kafarah dosa kalau kita sabar. terfikir hikmah di sebalik terpotong jari ni. jadi, Taqwa ini la yang saya jumpa. Alhamdulillah, ilham itu datang dari Dia :)

p/s: jom kita bertaqwa, berhati- hati, sungguh- sungguh, mujahadah untuk jauhkan diri dari mende- mende yang boleh menyakitkan kita di hari muka nanti. :)


dari saya,

yang terpotong jari.

Sunday, January 24, 2010

incomprehensible?

Sungguh rugi orang- orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka secara tiba- tiba, mereka berkata, "Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu." sambil mereka memikul dosa- dosa di atas belakangnya. Alangkah buruknya apa yang mereka pikul itu.

Dan kehidupan duunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang- orang yang bertaqwa. Tidakkah kamu mengerti?
- Al- An'am: 31, 32-


penyesalan


lalai


dosa


permainan


senda gurau.



akhirat itu lebih baik.






Tidakkah kamu mengerti?


Tidakkah kamu mengerti?


Tidakkah kamu mengerti?






Tidakkah kita mengerti?



Tidakkah saya mengerti?

Saturday, October 17, 2009

you can never kill me


Behind this mask is an idea, and idea is bulletproof.


-V, V for vendetta.